TUGAS UAS BAHASA INDONESIA "AL-QUR`AN SEBAGAI PETUNJUK MANUSIA"


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Al-Qur`an merupakan kitab suci umat Islam yang menjadi pedoman bagi semua manusia. Al-Qur`an sebagai kitab Allah memiliki banyak keistimewaan, yang menjadi pembeda dengan kitab-kitab Allah lainnya. Keistimewaan Al-Qur`an, diantaranya adalah sebagai petunjuk manusia di dunia dan mampu memberikan jaminan keselamatan di akhirat bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk didalamnya. Sebagai kitab suci, isi Al-Qur`an memang benar-benar menunjukkan kepada arah keselamatan yang penjelasannya begitu sempurna, sehingga siapapun yang mampu memahami Al-Qur`an, Insyaa Allah akan selalu di bimbing oleh Allah SWT dan selalu mendapat perlindungan-Nya.
Dalam peranannya sebagai kitab suci, Al-Qur`an menyajikan informasi yang begitu up to date, yang tidak pernah tergilas oleh kemajuan zaman. Al-Qur`an adalah petunjuk dari Allah SWT yang terakhir bagi manusia dan sekaligus sebagai penyempurna kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Kitab suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini, diturunkan secara berangsur-angsur. Hal itu untuk membuktikan bahwa segala hal yang dilakukan untuk mencapai sesuatu haruslah melalui proses.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, dirumuskan masalahnya sebagai berikut.
1.      Apa pengertian Al-Qur`an?
2.      Apa nama-nama lain dari Al-Qur`an?
3.      Bagaimana keutamaan Al-Qur`an?
C.  Tujuan
Adapun tujuannya, yaitu:
1.      untuk mengetahui pengertian Al-Qur`an,
2.      untuk mengetahui nama-nama lain dari Al-Qur`an, dan
3.      untuk mengetahui keutamaan Al-Qur`an.

PEMBAHASAN
A.    Teori
Al-Qur`an merupakan kitab suci umat Islam yang penting untuk dikaji. Karena selain selain sebagai jalan untuk menjadi manusia yang mendapat petunjuk, juga memberikan jaminan keselamatan dengan memepelajarinya.
1.      Pengertian Al-Qur`an
Ash-Shaabuuniy (1998: 25) mengatakan, “Kata ‘Al-Qur`an’ adalah sama halnya dengan kata ‘qira`ah’ yaitu masdar dari kata ‘qara`a’, ‘qira`atan’, ‘qur`anan’.” Arti Al-Qur`an secara bahasa adalah bacaan. Sedangkan secara istilah Al-Qur`an adalah kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., yang ditulis dalam mushaf, diriwayatkan secara mutawatir dan bagi yang membacanya adalah ibadah serta yang diawali surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surat An-Naas. Defini lain Al-Qur`an secara istilah adalah “Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., dalam bahasa Arab yang dinukilkan kepada generasi sesudahnya, secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, tertulis dalam mushaf, dimulai dari surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Naas.” (Rachmat Syafe`i, 2010: 51).
Pengertian Al-Qur`an diatas, sebenarnya telah mewakili semua pengertian yang diberikan para ulama. Seperti pengertian berikut, Rosihon Anwar (2012: 31) mengungkapkan pengertian Al-Qur`an yang dikutip dari ucapan Al-Jurjani bahwa “Al-Qur`an adalah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW., yang ditulis didalam mushaf dan yang diriwayatkan secara mutawatir tanpa keraguan.”

Selain itu, `Abd Wahhab Khallaf mengatakan bahwa Al-Qur`an adalah firman Allah yang dibawa turun oleh al-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hati sanubari Rasul Allah Muhammad bin `Abd Allah sekaligus bersama lafal Arab dan maknanya, benar-benar sebagai bukti bagi Rasul bahwa ia adalah utusan Allah dan menjadi pegangan bagi manusia agar mereka terbimbing dengan petunjuk-Nya ke jalan yang benar, serta membacanya bernilai ibadah. Semua firman itu terhimpun di dalam mushaf yang diawali dengan surat al-Fatihah dan ditutup dengan surat al-Nas, diriwayatkan secara mutawatir dari satu generasi ke generasi yang lain melalui tulisan dan lisan, serta senantiasa terpelihara keorisinilannya dari segala bentuk perubahan dan penukaran atau penggantian (Nashruddin Baidan, 2005: 16).
Syadali dan Rofi`i (2000: 11) mengemukakan bahwa “Al-Qur`an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia.” Hal ini semakin menguatkan pengertian yang telah diungkapkan sebelumnya. Pengertian tersebut, memberikan arti bahwa Al-Qur`an adalah buatan Tuhan Yang Maha Esa, bukan buatan manusia atau makhluk lain. Karena Al-Qur`an adalah firman Allah SWT., maka pantas jika Al-Qur`an dianggap sebagai petunjuk manusia hingga akhir zaman.
Sementara itu, Mohammad Rifa`i (1987: 96) mengatakan, “Al-Qur`an ialah wahyu Allah s.w.t. yang merupakan mu`jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam, jika dibaca menjadi ibadat kepada Allah.” Al-Qur`an sebagai petunjuk manusia memiliki peranannya sendiri, dimana peranan tersebut merupakan perwujudan implementasi dari fungsi Al-Qur`an sebagai petunjuk manusia. Peranan Al-Qur`an sebagai petunjuk manusia itu, tidak terlepas pada fungsi dan tujuan diturunkannya kitab suci ini, dimana fungsi dan tujuannya adalah untuk menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya dan petunjuk bagi manusia.
2.      Nama-Nama Lain dari Al-Qur`an
Al-Qur`an sebagai kitab terakhir yang diturunkan Allah SWT., mempunyai beberapa nama. Nama-nama tersebut diambil dari keterangan-keterangan yang terdapat dalam Al-Qur`an sendiri, karena Allah SWT menyebut Al-Qur`an dengan nama yang berbeda-beda didalamnya.
Marzuki (1994: 5) menyebutkan nama-nama lain dari Al-Qur`an sebagai berikut.
a.       Kitab (Al-Dukkan, ayat 1 dan 2)
b.      Qur`an (Al-Waqi`ah, ayat 77)
c.       Kalam (At-Taubah, ayat 6)
d.      Nur (An-Nisa, ayat 174)
e.       Hudan (Luqman, ayat 3)
f.       Rahmah (Yunus, ayat 58)
g.      Furqon (Al-Furqon, ayat 1)
h.      Syifa` (Al-Isra, ayat 82)
i.        Maw`izhah (Yunus, ayat 57)
j.        Dzikra (Al-`Anbiya, ayat 50)
k.      Karim (Al-Waqi`ah, ayat 77)
l.        Ali (Al-Zukhruf, ayat 41)
m.    Hikamh (Al-Qamar, ayat 5)
n.      Hakim (Yunus, ayat 1 dan 2)
o.      Muhaymin (Al-Maidah, ayat 48)
p.      Mubarok (Shad, ayat 29)
q.      Habl (Al-`Imran, ayat 103)
r.        Shiroth (Al-An`am, ayat 153)
s.       Al-Qoyyim (Al-Kahfi, ayat 1 dan 2)
t.        Fadhla (Al-Thariq, ayat 13)
Nama-nama tersebut, sesuai dengan eksistensi Al-Qur`an yang agung. Sehingga tidak aneh, jika begitu banyak nama untuk mengungkapkannya.
Ash-Shaabuuniy (1998: 21) menambahkan nama-nama lain dari Al-Qur`an selain diatas, sekaligus mengemukakan  beberapa alasan penamaannya. Nama-nama lain Al-Qur`an dan sekaligus alasan penamaannya, sebagai berikut.
a.       Al-Qur`an, alasan penamaanya sebagaimana tercantum daalam firman Allah SWT.,
ق ۚ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ [٥٠:١]
Artinya: “Qaaf, Demi Al-Qur`an yang sangat mulia.”          (Q.S Qaaf: 1)
b.      Al-Furqan, alasan penamaannya sesuai dengan firman Allah SWT., berikut ini.
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا [٢٥:١]
Artinya: “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur`an) kepada hambanya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Q.S Al-Furqan: 1)
c.       At-Tanzil, alasan penamaannya sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT.,
وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ [٢٦:١٩٢]
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ [٢٦:١٩٣]
Artinya: “Dan sesungguhnya Al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril a.s.).” (Q.S Asy-Syu`ara: 192-193)
d.   Az-Zikr, alasan penamaannya sebagaimana tercantum dalam Al-Qur`an. Firman Allah SWT.,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [١٥:٩]
Artinya: “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”        (Q.S Al-Hijr: 9)
e.      Hudan dan Syifa`, alasan penamaannya adalah sebagaimana tercantum dalam Al-Qur`an. Firman Allah SWT.,
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ
Artinya: “Katakanlah! Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S Fussilat: 44).
Nama-nama diatas, semuanya itu menunjukkan kedudukan Al-Qur`an yang tinggi dan luhur. Dengan kata lain, Al-Qur`an adalah mutlak kitab suci yang harus dipegang seluruh manusia sebagai petunjuk.
3.      Keutamaan Al-Qur`an
Duraz mengatakan, “Yang menarik perhatianku dinamakan Al-Qur`an ialah karena dibaca dengan indah. Juga yang menarik perhatianku dinamakan Al-Kitab karena ditulis dengan pena dan dibukukan.” (Mana`ul Quthan, 1998: 13). Keistimewaan dan keutamaan Al-Qur`an yang telah disebutkan dalam pengertian diatas menjadikannya lebih kokoh sebagai kitab suci. `Abdul Wahab Khalaf (1996: 41) mengatakan, “Al-Qur`an itu diturunkan secara mutawatir atau dengan cara penukilan yang melahirkan pengetahuan dan kebenaran qath`i dengan periwayatan secara mutlak.” Jadi, bisa dikatakan dengan diturunkannya Al-Qur`an secara mutawatir, menjadikan Al-Qur`an lebih memiliki eksistensi dalam tatanan hukum kehidupan di dunia.
Banyak sekali yang menjadi keutamaan Al-Qur`an, karena memang Al-Qur`an adalah kitab suci yang abadi. Keutamaan-keutamaan yang dimaksud misalnya, Al-Qur`an bisa dibaca dalam kondisi dan keadaan apapun dan kapanpun. Baik dalam keadaan sakit, sehat, senang, susah dan lain-lain. Dalil yang membahas mengenai keagungan Al-Qur`an sungguh banyak sekali. Diantaranya ada yang berhubungan dengan keutamaan mempelajari dan mengajarkannya, ada yang berhubungan dengan keutamaan membaca dan memperhatikannya, dan ada pula yang berhubungan dengan penghapalan dan pemaantapannya.
Berikut dalil-dalil nash yang dimaksud, diantaranya:
a.       Firman Allah SWT.,
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ [٣٥:٢٩]
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tiada akan merugi.” (Q.S Fathir: 29).
b.      Hadits Nabi Muhammad SAW.,
Artinya: “Sebaik-baiknya orang diantara kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (H.R Bukhari).
B.     Pembahasan
Dari uraian-uraian diatas pembahasan yang disampaikan adalah mengenai pengertian, nama-nama Al-Qur`an dan keutamaannya. Pengertian Al-Qur`an seperti yang telah disampaikan diatas, secara bahasa Al-Qur`an artinya bacaan. Sedangkan menurut istilah dapat diambil pengertian, Al-Qur`an adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur melalui Malaikat Jibril a.s. diriwayatkan secara mutawatir, ibadah bagi yang mengamalkannya, yang dimulai dari surat Al-Fatihah dan surat An-Naas.
Sebutan-sebutan bagi Al-Qur`an yang lainnya, yaitu: al-Kitab, al-Furqan, az-Zikr, at-Tanzil, asy-Syifa`, al-Huda. Nama-nama itu bukan berarti Al-Qur`an memiliki tidak tetap, akan tetapi sebutan-sebutan itu untuk menunjukkan keagungan dan keluhuran dari Al-Qur`an itu sendiri. Sehingga Al-Qur`an sebagai kitab suci yang abadi selalu menjadi petunjuk terbaik.
Adapun keutamaan Al-Qur`an merupakan perwujudan implementasi peranan Al-Qur`an itu sendiri, sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia. Petunjuk tersebut digunakan manusia, untuk mendapatkan kemenangan yang luar biasa besar, yang tidak pernah di pikirkan manusia. Kemenangan itu bukan hanya kemenangan kebahagiaan di dunia, tetapi juga kemenangan di akhirat. Keutamaan-keutamaan Al-Qur`an diantaranya: memiliki bahasa yang begitu indah, isinya tidak tertinggal oleh zaman karena berlaku sampai hari kiamat, setiap huruf di dalamnya berpahala jika dibaca dan diamalkan, Al-Qur`an mampu menjawab semua persoalan manusia dan keutamaan lainnya.

PENUTUP
A.    Simpulan
Sebagai kitab suci yang paling sempurna, Al-Qur`an memang pantas menjadi petunjuk manusia. Selain dari segi bahasanya yang begitu indah, juga memiliki makna yang paling mendalam jika dibandingkan dengan kitab-kitab yang lain. Seperti yang telah diungkapkan diatas banyak sekali keutamaan dan keistimewaan Al-Qur`an dalam perannya sebagai petunjuk manusia. Hal ini dikarenakan Sang Pencipta sendirilah yang menurunkannya dan menjaganya.
Sehingga hal itu, memberikan gambaran kepada kita bahwa Al-Qur`an memang benar-benar petunjuk jalan keselamatan. Namun, peran Al-Qur`an dengan begitu banyak keagungan dan keistimewaannya itu tidak akan bisa terlaksana tanpa adanya seorang khalifah yang membawanya dan mengajarkannya. Dalam hal ini, makhluk yang diberi amanat itu adalah manusia.
Akan tetapi, maksud diatas bukan berarti Al-Qur`an memiliki ketergantungan kepada manusia. Melainkan, manusialah yang membutuhkan Al-Qur`an sebagai petunjuk dan pedoman hidup di dunia untuk mencapai keberhasilan yang luar biasa di akhirat. Sehingga, hal ini menjadikan manusia memiliki tugas yang begitu berat, karena harus mengamalkan seluruh isi dalam Al-Qur`an. Meski tugas yang ditanggung manusia itu berat, akan tetapi selalu ada kemudahan didalam menjalankannya. Hal ini Allah tegaskan dalam Al-Qur`an mengenai pekerjaan sulit yang didalamnya pasti ada kemudahan, yakni firman Allah SWT.,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا [٩٤:٦]
Artinya: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Q.S Al-Insyirah: 6).

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur`anul Kariim. Bandung: Syaamil Al-Qur`an.
Anwar, Rosihon. 2012. Ulum Al-Qur`an. Bandung: Pustaka Setia.
Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali. 1998. Studi Ilmu Al-Qur`an. Bandung: CV Pustaka Setia.
Baidan, Nashruddin. 2005. Wawasan Baru Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Khalaf, Abdul Wahab. 1996. Ilmu Ushulul Fiqh. Bandung: Gema Risalah Press.
Marzuki, Kamaluddin. 1994. `Ulum Al-Qur`an. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.
Rifa`i, Mohammad. 1987. Ushul Fiqih. Bandung: Al-Ma`arif.
Syadali, Ahmad dan Rofi`i, Ahmad. 2000. Ulumul Qur`an 1. Bandung: CV Pustaka Setia.
Syafe`i, Rachmat. 2010. Ilmu Ushul Fiqh. Bandung: CV Pustka Setia.
Quthan, Mana`ul. 1998. Pembahasan Ilmu Al-Qur`an. Jakarta: PT Rineka Cipta.





Makalah Ilmu Kalam (Kalimat Tauhid)


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Permasalahan dalam Tauhid adalah permasalahan vital yang ada dalam ajaran Islam, karena mengandung begitu penting maknanya. Tauhid menjadi hal paling prinsip dalam Islam yang memiliki kedudukan teratas dalam keimanan seseorang kepada Allah SWT. Hal ini dikarenakan syarat segala amalan setiap insane kepada Allah SWT adalah dengan sempurnanya tauhid.
Persoalan Tauhid telah dibawa dari masa Nabi ke Nabi selanjutnya, karena tujuan dari adanya ajaran ini agar manusia menyembah hanya kepada Allah SWT. Sehingga, tidak membuka celah sedikitpun bagi orang-orang yang hendak melakukan tipu daya. Karena dengan tauhid yang mantap, dengan keimanan yang sempurna segala ranjau yang telah dipersiapkan setan tidak akan mampu menjerat manusia taat ini.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, didapatkan rumusan masalah sebagai berikut.
1.      Apa makna kalimat Tauhid لااله الاالله?
2.      Bagaimana keistimewaan kalimat Tauhid لااله الاالله?
3.      Bagaimana syarat dan rukun kalimat Tauhid لااله الاالله?
C.    Tujuan
Adapun tujuannya, yakni:
1.      Untuk memahami makna kalimat Tauhid لااله الاالله,
2.      Untuk mengetahui keistimewaan kalimat Tauhid لااله الاالله, dan
3.      Untuk mengetahui syarat dan rukun kalimat Tauhid لااله الاالله.

PEMBAHASAN
A.    Makna Kalimat Tauhid لااله الاالله
Kalimat Tauhid telah dikemukakan dalam Al-Qur`an lebih dari 30 kali sebagaimana dapat disimak dalam surat Al-Baqarah, Al-Imran, An-Nisa, Al-An`am, At-Taubah, Yunus, Hud, Ar-Ra`du, Ibrahim, An-Nahl, Taa-haa, Al-Anbiya, Al-Mu`minu, An-Naml dan yang lainnya. Hal itu memberikan keyakinan dan bukti nyata bahwa masalah Tauhid dalam ajaran samawi (Islam) adalah ajaran inti dari ajaran Allah SWT.
Kalimat Tauhid yang agung لااله الاالله yakni ‘Tiada Tuhan Selain Allah’ memiliki arti yang sangat dalam dan luas. Seorang hamba tidak mungkin akan dapat beramal sesuai yang dikehendaki olehnya, kecuali setelah ia benar-benar memahami makna yang terkandung didalamnya sehingga ia beramal atas dasar kalimat Tauhid ini dengan sadar.
Allah SWT berfirman.
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ
Artinya: “Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)” (Q.S Al-Baqarah: 255).
Kata الاله menurut bahasa adalah المعبود yakni ‘yang disembah’, terambil dari kata اله يأله الاهة yang bermaknaعبد يعبد عبادة  yakni ‘menyembah’. Kata الاله mengikuti pola kata فعال yang bermakna, مفعول yakni معبود yang disembah.[1]
Sedangkan الاله menurut syara’: yaitu Tuhan satu-satu-Nya yang berhak disembah. Sebab hanya Dia sajalah yang memiliki sifat-sifat ketuhanan sebagai sifat-sifat mutlak yang selaras dengan keagungan dan kebesaran-Nya yang tidak akan pernah dapat diraih, oleh siapapun, kecuali hanya oleh Dia sendiri. Dialah Allah pencipta segala sesuatu, tidak ada Tuhan selain Dia ‘Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakana dengan ketinggian yang sebesar-besarnya’. Oleh karena itu, maka yang harus disembah itu tidak lain hanya Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi.[2]
Sementara itu, lafadz الله adalah ‘Isim Alam’ (kata benda khusus) bagi Dzat Tuhan Yang Maha Suci seperti yang telah diketahui, yakni Isim Alam mutlak yang paling difinitif. Dialah Allah yang berhak dan harus disembah, dimana segala bentuk ibadah dan pengabdian dalam situasi dan kondisi bagaimanapun juga harus tetap hanya diperuntukkan bagi-Nya.[3]
Jadi, makna لااله الاالله adalah peniadaan seluruh yang disembah selain Allah SWT dan merupakan penetapan bahwa menyembah itu hanya diperuntukkan kepada dan bagi Allah saja. Maka dengan demikian, makna dari لااله الاالله adalah peniadaan dan penetapan, yakni meniadakan Tuhan selain Allah SWT dan menetapkan bahwa Tuhan itu hanya Dia.
B.     Keistimewaan Kalimat Tauhid لااله الاالله
Kesempurnaan Tauhid yang dimiliki oleh seseorang, akan membawa kepada jalan yang lurus dan Allah SWT akan senantiasa selalu melindungi dan menjamin keselamatannya baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena sebab itu, Kalimat Tauhid memiliki keistimewaan yang sangat besar dan luar biasa.
Syekh Muhammad At-Tamimi dalam kitab Tauhid mengemukakan bahwa `Ubadah bin Ash-Shamit, mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bersyahadat bahwa Isa hamba Allah dan Rasul-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh dari pada-Nya dan bersyahadat pula bahwa surge adalah benar adanya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam syurga betapapun amal yang telah diperbuatnya” (HR Bukhari dan Muslim).[4]
Banyak nash yang meriwayatkan dan menjelaskan keutamaan atau keistimewaan kalimat Tauhid, diantaranya sebagai berikut.
Diriwayatkan dari Abu Sa`id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdoa kepada-Mu’. Allah berfirman, ‘Hai Musa, katakanlah لااله الاالله’. Musa berkata lagi, ‘Ya Tuhanku, semua hamba-Mu mengucapkan ini’. Allah pun berfirman, ‘Hai Musa, Andaikata ketujuh langit dan penghuninya, selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada daun timbangan, sedang لااله الاالله diletakkan pada daun timbangan lain, maka لااله الاالله niscaya lebih berat timbangannya’.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan menyatakan bahwa hadits ini shahih).
At-Tirmidzi meriwayatkan hadits, yang dinyatakan hasan, dari Anas, aku mendengar Rasulullah bersabda, “Allah berfirman, ‘Hai anak Adam, seandainya kamu dating-Ku dengan dosa sepenuh jagad. Sedangkan kamu ketika mati tidak dalam keadaan syirik sedikitpun kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh jagad pula’.”
Allah SWT berfirman.
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ [٦:٨٢]
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S Al-An`am).[5]
C.    Syarat dan Rukun Kalimat Tauhid لااله الاالله
Pada dasarnya kalimat Tauhid yang merupakan salah satu rukun Islam yaitu dalam koridor syahadat, memiliki syarat dan rukun yang harus dicapai untuk menyempurnakan keimanan kepada Allah SWT.
1.      Syarat Kalimat Tauhid لااله الاالله
Syarat merupakan aspek penting dalam perwujudan tercapainya sesuatu hal. Dalam hal ini ada tujuh syarat, yakni:[6]
a.       Mengetahui, maksudnya adalah mengetahui makna kalimat Tauhid لااله الاالله secara peniadaan maupun penetapan. Sesuai dengan Q.S Muhammad: 19.
b.      Yakin, maksudnya adalah hati meyakini dan membenarkan kalimat Tauhid لااله الاالله. Sesuai dengan Q.S Al-Hujurat: 5.
c.       Ikhlas. Sesuai dengan Q.S Al-Bayyinah: 5.
d.      Benar, maksudnya adalah hendaknya pernyataan beriman itu bukan sekedar basa-basi, sehingga yang bersangkutan benar-benar meyakini bahwa segala yang terkandung di dalam Al-Qur`an dan segala yang disampaikan oleh Rasulullah SAW benar adanya. Sesuai dengan Q.S Az-Zumar: 33.
e.       Cinta, maksudnya adalah hendaknya Allah SWT lebih dicintai daripada yang lain dengan total dan sepenuh hati. Sesuai dengan Q.S Al-Maidah: 54.
f.       Berserah diri kepada Allah SWT baik lahir maupun bathin. Sesuai dengan Q.S Luqman: 22.
g.      Menerima, yaitu tidak menolak apa yang dikehendaki oleh makna yang terkandung dibalik kalimat Tauhid لااله الاالله sebagaiman telah digariskan oleh Allah Yang Maha Bijaksana. Sesuai dengan Q.S Ash-Shaffat: 35-37.
2.      Rukun Kalimat Tauhid لااله الاالله
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, rukun ini berkaitan dengan pembahasan makna kalimat Tauhid لااله الاالله. Rukun kalimat Tauhid لااله الاالله, yakni:[7]
a.       Meniadakan, maksudnya adalah meniadakan yang lain seluruhnya hanya untuk menyembah, mengabdi dan berserah diri kepada Allah. Dengan benar-benar memurnikan peribadatan kepada-Nya.
b.      Menetapkan, maksudnya adalah menetapkan Allah sebagai raja diatas raja, Maha dari segala Maha.

PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kalimat Tauhid لااله الاالله, yang mempunyai kedudukan paling penting dalam aqidah seseorang kepada Allah SWT, menjadikannya salah satu kunci mendapat kemenangan dari Allah SWT. Kesempurnaan iman, hanya akan didapat dengan meninggalkan dan tidak mendekati perbuatan syirik sekecil apapun itu. Hal ini dikarenakan Allah SWT sangat membenci para pelaku syirik dan menginformasikan kepada hamba-Nya bahwa ‘sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang amat besar’.
Untuk mencapai kesempurnaan tersebut pula, seseorang harus mampu mencapai dan memenuhi syarat dan rukunnya. Semoga kitalah yang senantiasa termasuk orang-orang yang berusaha menyempurnakan keimanan kepada Allah SWT. Sebagai wujud cinta kepada Allah SWT.
B.     Kritik dan Saran
Makalah ini masih sangat jauh dari sempurna, karena mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan yang terjadi, baik dari penulisan kata, ejaan, paragraf dan lain-lain. Hal itu dikarenakan kurangnya pengetahuan dan keahlian penulis sendiri dalam hal ini.
Oleh karenanya, untuk dapat menutupi hal itu penulis berharap adanya apresiasi yang diberikan dari pembaca berupa kritik dan saran yang bersifat membangun. Dengan adanya hal seperti itu, penulis akan mampu melakukan perbaikan terus menerus.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Munawwarah, Syarif Hamdan Rajih Madinah. 2001. Kalimat Tauhid laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah. Jakarta: Kalam Mulia.
Al-Qur`anul Kariim.
Praditya, Adinda. 2004. Ebook Kitab Tauhi Karya Syekh Muhammad At-Tamimi. Diunduh lewat  adind@vbaitullah.or.id, 1 Desember 2012


[1] . Dr. Syarif Hamdan Rajih Madinah Al-Munawwarah, Kalimat Tauhid Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah, 2001, hlm. 10
[2] . Ibid.
[3] . Ibid.
[4] . Download dari blog Adinda Praditya, (E-Book Kitab Tauhid Karya Syekh Muhammad At-Tamimi), 2004, hlm. 20.
[5] . Al-Qur`anul Kariim.
[6] . Dr. Syarif Hamdan Rajih Madinah Al-Munawwarah, Kalimat Tauhid Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah, 2001, hlm. 30.
[7] . Ibid. hlm. 29
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. R U D I N I - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger