Filsafat Pendidikan Scholastisme

PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang
Segala kegiatan dalam kehidupan manusia, tidak akan terlepas dari pengaruh filsafat. Karena seperti yang diketahui bersama bahwa filsafat telah memasuki dan mendominasi dari sebagian bahkan seluruh kegiatan manusia. Hal ini dikarenakan manusia selalu menggunakan akal pikirannya dalam menuju kebahagiaan hidupnya.
Demikian halnya sekarang, filsafat telah merasuki dan merupakan bagian penting dalam pendidikan. Adapun aliran-aliran dalam Filsafat Pendidikan banyak sekali, salah satunya adalah Filsafat Pendidikan Scholastisme. Filsafat Pendidikan Scholastisme lahir pada abad pertengahan (976-1492 M). Scholastisme itu sendiri bermakna sekolah atau ajaran (madzhab), didalamnya dibahas ajaran tentang manusia dan Tuhannya serta bagaimana pendidikan seharusnya.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan Tuhan secara sempurna dengan dibekali akal dan nafsu. Sehingga derajat dan kedudukan manusia mampu melampaui makhluk-makhluk Tuhan yang lain, ketika manusia itu sanggup memanfaatkan fasilitas yang telah diberikan untuk mendapatkan kebahagiaan hidupnya. Sehingga penting sekiranya dipelajari mengenai Filsafat Pendidikan Scholastisme.
2.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diambil rumusan masalahnya yakni:
a.    Apa yang dimaksud dengan Filsafat Pendidikan Scholastisme?
b.    Bagaimana konsep-konsep filsafat dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme?
c.    Bagaimana konsep-konsep pendidikan dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme?
3.    Tujuan
Adapun tujuannya, sebagai berikut.
a.    Untuk memperoleh data tentang Filsafat Pendidikan Scholastisme.
b.    Untuk mengetahui konsep-konsep filsafat dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme.
c.    Untuk mengetahui konsep-konsep pendidikan dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme.

PEMBAHASAN
A.  Pengertian Filsafat Pendidikan Scholastisme
Filsafat Pendidikan Scholastisme memiliki tiga unsur kata yang semuanya mengandung makna, yakni: Filsafat, Pendidikan dan Scholastisme. Filsafat sendiri sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya berasal dari bahasa Yunani yaitu Philos dan Sophia. Philos artinya cinta dan Sophia berarti kebijaksanaan. Secara istilah menurut Yaya Sunarya (2012:16) “Arti filsafat secara harfiah adalah cinta yang sangat mendalam terhadap kearifan dan kebijakan”.
Secara bahasa, pendidikan berasal dari bahasa Yunani, yaitu Paedagogic yang berarti pergaulan bersama anak-anak. Secara istilah John Dewey mengatakan, “Pendidikan adalah suatu proses pengalaman” (Yaya Sunarya, 2012:18). Sedangkan menurut Crow and Crow, “Pendidikan adalah proses pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan (insight) dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan ia berkembang” (dikutip dalam Yaya Sunarya, 2012:18).
Dua kata diatas jika digabungkan menjadi Filsafat Pendidikan, yang akan memiliki makna berbeda dan lebih luas lagi dari kata asalnya. Asy-Syaibani mengartikan bahwa Filsafat Pendidikan yaitu aktifitas pikiran teratur yang menjadikan filsafat tersebut sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan, (dikutip dalam Jalaluddin dan Abdullah, 2002:13). Mengutip perkataan John Dewey, Jalaluddin dan Abdullah (2002:13) lebih lanjut menjelaskan bahwa Filsafat Pendidikan merupakan suatu pembentukan kemampuan dasar yang fundamental (paling mendasar), baik yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun perasaan (emosional), menuju ke arah tabiat manusia.
Selanjutnya, Scholastisme dalam bahasa Inggris yaitu school yang berarti sekolah atau ajaran atau madzhab. Sedangkan Ahmad dan Mudzakir (2004:81) mengemukakan bahwa Scholastisme berasal dari kata schuler yang memiliki makna sama dengan sebelumnya yakni sekolah atau ajaran. Kata ‘isme’ dalam Scholastisme menunjukkan suatu paham atau aliran. Jadi, bisa dikatakan bahwa Scholastisme ini adalah aliran mengenai sekolahan.
Dari beberapa uraian diatas, dapat diambil pengertian mengenai Filsafat Pendidikan Scholastisme adalah filsafat pendidikan yang berorientasi dan meliputi segala tentang sekolah. Jadi bisa dikatakan Filsafat Pendidikan Scholastisme ini memberikan pengetahuan dan bekal bagi manusia tentang bagaimana konsepsi-konsepsi sekolah. Karena seperti yang diketahui, sekolah sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia masa kini dan hampir selalu mempengaruhi bagaimana nasib manusia di masa depan nanti.
Ada dua tokoh terkenal dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme, pertama yakni Peter Abelard seorang filosof asal Perancis yang lahir pada tahun 1079 di Pallet (Palais) dan kedua adalah Thomas Aquinas. Dalam salah satu pemikirannya, Abelard mengemukakan bahwa peranan akal dapat menundukan iman, iman harus mau didahulukan oleh akal. Hal ini menjadi dasar bahwa berfikir itu merupakan sesuatu yang berdiri sendiri dan berada diluar iman (dikutip dalam civiceducation.blogspot.com).
Dalam pembahasannya mengenai Filsafat Pendidikan Scholastisme ini, sangat erat hubungannya dengan Filsafat Pendidikan Perenialisme. Hal ini dikarenakan bukan hanya tokoh yang menjadi figur didalamnya saja, melainkan juga isi dan cakupan pembahasannya tidak jauh membelok diantara keduanya yakni pembahasan mengenai akal, manusia dan Tuhannya. Mengenai hubungan keduanya Disebutkan oleh Jalaluddin dan Abdullah (2002:91) bahwa Thomas Aquinas telah mengadakan beberapa perubahan sesuai dengan tuntutan agama Kristen tatkala agama itu datang, kemudian lahir apa yang dikenal dengan nama Neo-Thomisme atau Neo-Scholastisme. Tatkala Neo-Thomisme atau Neo-Scholastisme masih dalam bentuk awam maupun dalam paham gerejawi sampai pada tingkat kebijaksanaan, maka ia terkenal dengan nama perenialisme.
B.  Konsep-Konsep Filsafat Dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme
Redja Mudyahardjo (2008:230-232) menyebutkan Konsep-Konsep Filsafat Dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme, yakni:
1.    Metafisika (Hakikat Kenyataan)
Dalam kaitannya mengenai kenyataan, dikenal dua kenyataan dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme, yaitu:
a.    Bentuk/Potentia/Morphe (Form)
b.    Mater/Actu/Hyle (Materi)
Kenyataan yang tersusun secara hierarkis dari Tuhan sebagai kenyataan tertinggi dan materi sebagai kenyataan terendah. Tuhan sebagai kenyataan tertinggi, karena Tuhan-lah yang menciptakan dan memberikan kemampuan kepada manusia.
2.     Humanologi (Hakikat Manusia)
Ada beberapa hakikat manusia dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme menurut Redja, yakni:
a.  Manusia diciptakan Tuhan. Oleh karena Tuhan adalah Maha Bijaksana dan Maha Baik, Tuhan harus menciptakan manusia untuk suatu tujuan. Tujuan tersebut adalah kebahagiaan, suatu kebahagiaan harus diwujudkan secara sempurna hanya dalam Tuhan.
b.    Manusia terdiri atas tubuh dan jiwa, bersatu dalam kesatuan yang hakiki. Manusia bukanlah jiwa yang berpikir tapi pribadi.
c. Jiwa manusia adalah immaterial, rohaniah, yang secara insting atau secara sewajarnya bergantung pada materi, karena harus bersatu dengan tubuh untuk membentuk satu kesatuan.
d. Manusia mempunyai intelek, karena itu dapat memahami, membuat pertimbangan, dan menyimpulkan.
e.    Manusia mempunyai kemauan bebas, yakni kemampuan menentukan suatu pilihan.
f.  Manusia adalah binatang yang rasional, yang dapat berfikir dan berkemauan, karena itu merupakan bentuk tertinggi dari binatang.
g.   Manusia hanya dapat dihancurkan oleh Tuhan sendiri, karena manusia mempunyai jiwa yang bersifat rohaniah.
h.   Ada suatu norma yang menentukan suatu tindakan adalah baik atau jahat.
Jadi, dalam hal ini dapat dikatakan bahwa sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dibekali akal pikiran, manusia hendaklah mampu memanfaatkan fasilitas tersebut. Bukan hanya untuk membuktikan bahwa manusia itu bukan binatang, melainkan untuk menunjukkan bahwa manusia mampu memelihara alam ini sebagai khalifah.
3.    Epistimologi (Hakikat Pengetahuan)
Mengenai Hakikat Pengetahuan dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme, Redja mengemukakan bahwa pengetahuan itu bertingkat-tingkat, yang dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu:
a.      Pengetahuan tentang alam yang diketahui melalui rasio.
b.  Pengetahuan tentang kebenaran diluar alam yang diperoleh melalui percaya berdasarkan intiusi. Pengetahuan berdasarkan kepercayaan seperti ini, harus terus berlaku apabila ada perbedaan dengan yang diperoleh melalui rasio.
4.    Aksiologi (Hakikat Nilai)
Redja menyebutkan empat (4) point penting dalam kaitannya mengenai Hakikat Nilai dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme, empat (4) point tersebut adalah.
a.    Pertama-tama manusia harus mengetahui kebaikan agar mau berbuat baik.
b.    Kebaikan yang tertinggi atau kebajikan adalah kebahagiaan dan cinta kasih Tuhan.
c.    Ada dua macam kebajikan yaitu:
1)      Kebajikan teologis yang berkenaan dengan keimanan, harapan dan kemurahan hati.
2)  Kebajikan kardinal berkenaan dengan kesucian, keberanian =, kesederhanaan dan keadilan.
d. Cara-cara utama dalam mencapai kebahagiaan adalah kesehatan, kemakmuran dan persaudaraan.
Uraian-uraian diatas akan dapat dipahami ketika dilakukan penghayatan mendalam yang disertai berpikir kritis. Hal tersebut sekiranya perlu dilakukan, agar mampu sepenuhnya memahami apa dan bagaimana serta kenapa konsep-konsep filsafat dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme demikian adanya.
C.  Konsep-Konsep Pendidikan Dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme
Lebih lanjut Redja Mudyahardjo (2008:232-234) menjelaskan mengenai Konsep-Konsep Pendidikan Dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme, kemudian beliau menyebutkan beberapa point penting seperti dibawah ini.
1.    Tujuan-Tujuan Pendidikan
Sebagaimana diketahui tujuan pendidikan adalah menjauhkan manusia dari keterbelakangan pengetahuan dan menjadikan manusia yang memiliki banyak pengetahuan untuk kebahagiaan hidupnya di masa mendatang. Akan tetapi, lebih jelasnya dalam pembahasan Filsafat Pendidikan Scholastisme Redja menyebutkan ada 2 hal penting, yakni:
a.    Pendidikan tidak semata-mata ditujukan untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia, tetapi terutama untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat dalam pengenalan jiwa dengan Tuhan.
b.    Untuk mencapai tujuan tersebut pendidikan harus tertuju pada pengembangan keseluruhan potensi manusia yang mencakup intelektual, fisik (jasmaniah), volitional (kemauan) dan vokasional (bekerja).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pernyataan yang mengatakan pendidikan merupakan jalan mencapai kebahagiaan hidup di dunia adalah salah menurut Filsafat Pendidikan Scholastisme, karena dalam ajarannya tujuan akhir segalanya adalah Tuhan itu sendiri, yang telah menciptakan segala sesuatunya.
2.    Isi Pendidikan atau Kurikulum
Mengenai hal ini, ada dua hal penting yaitu:
a.    Isi pendidikan harus mencakup agama dan humaniora sebagai bagian pendidikan liberal atau pendidikan umum.
b.    Pendidikan liberal tersebut, terdiri atas:
1)      Mata-mata pelajaran fundamental yang berhubungan dengan pengembangan nilai-nilai      kemanusiaan.
2)    Mata-mata pelajaran instrumental yang berhubungan dengan pengembangan vokasional dan penunjang bagi mata-mata pelajaran fundamental.
Kurikulum dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme tentu harus mencakup agama karena sebagaimana yang diketahui bahwa Scholastisme mengarah kepada agama itu sendiri. Dimana menurut Ahmad dan Mudzakir (2004:81) bahwa secara garis besar filsafat abad pertengahan (masa scholastik) dapat dibagi dua periode, yaitu: Periode Scholastik Islam dan Periode Scholastik Kristen.
3.    Metode-Metode Pendidikan
Dalam setiap pendidikan pasti akan ditemui mengenai bagaimana metode pendidikannya itu disampaikan, sehingga akan dapat diprediksi bagaimana hasil akhirnya dari metode-metode yang digunakan tersebut. Namun, prediksi tersebut tidak bersifat mutlak karena sifatnya lebih kearah prasangka atau dugaan. Sebelum pada metode-metode dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme, perlu sekiranya mengetahui bagaimana caranya memperoleh pengetahuan. Menurut Redja (2008:233), ada dua macam memperoleh pengetahuan, yaitu:
a.  Melalui penemuan atau rasio alami sendiri yang tertuju pada pengetahuan yang tidak  diketahui.
b.   Melalui intruksi atau latihan, yakni orang lain memberi bantuan kepada rasio alami untuk tertuju pada pengetahuan yang tidak diketahui. Bantuan tersebut disebut pengajaran.
Setelah mengetahui dua macam cara pengetahuan bisa diperoleh. Selanjutnya, mengenai metode-metode pendidikan yang digunakan dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme, yakni:
a.    Metode dialektik,
b.    Metode ceramah dan
c.    Metode debat, diskusi atau tanya jawab
Metode-metode tersebut sangat tepat apabila dilakukan didalam lingkungan sekolah, karena seperti yang diketahui bersama kegiatan pendidikan disekolah sangat erat kaitannya antara guru dengan murid, dan antara murid dengan temannya. Interaksi inilah yang akan membantu wawasan ilmu peserta didik cepat meningkat.
4.    Peranan Peserta Didik dan Pendidik
Berikut Peranan Peserta Didik dan Pendidik dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme.
a.    Pengajaran berpusat pada guru yang diberikan melalui ceramah, latihan yang teratur dan      terarah serta tanya jawab.
b.  Tak seorangpun dapat mengajar dengan berhasil tanpa kebajikan dari cahaya pikiran oleh Tuhan. Dengan demikian Tuhan mengajar manusia dalam dirinya berupa memberikan potensi-potensi berpikir. Tuhan adalah guru bathiniyah manusia.
c.    Guru memberikan teladan yang baik.
d.   Peserta didik berperanan pasif.
Pada bagian terakhir peranan pasif yang dimaksud bukan berarti peserta didik tidak boleh atau haram aktif dikelasnya, melainkan dalam pembelajaran penyampaian yang berperan aktif adalah guru, karena gurulah yang mengajarkan mata pelajaran.

PENUTUP
1.    Kesimpulan
Berikut kesimpulan yang bisa penulis uraikan.
a.    Pengertian Filsafat Pendidikan Scholastisme
Scholastisme dalam bahasa Inggris yaitu school yang berarti sekolah atau ajaran atau madzhab. Kata ‘isme’ dalam Scholastisme menunjukkan suatu paham atau aliran. Jadi, bisa dikatakan bahwa Scholastisme ini adalah aliran mengenai sekolahan.
b.    Konsep-Konsep Filsafat Dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme
Ada beberapa point, yaitu:
1)   Metafisika (Hakikat Kenyataan)
Ada dua kenyataan, yaitu: Morphe dan Mater.
2)   Humanologi (Hakikat Manusia)
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang dibekali akal.
3)   Epistimologi (Hakikat Pengetahuan)
a)    Pengetahuan tentang alam diketahui melalui rasio.
b)   Pengetahuan tentang kebenaran diluar alam diketahui dengan kepercayaan.
4)   Aksiologi (Hakikat Nilai)
Kebaikan tertinggi disebut kebajikan dan kebajikan adalah kebahagiaan dan cinta kasih Tuhan.
c.       Konsep-Konsep Pendidikan Dalam Filsafat Pendidikan Scholastisme
Ada beberapa konsep, yakni:
1)      Tujuan-Tujuan Pendidikan
Pada intinya, tujuan pendidikan bukan hanya untuk mencapai kebahagiaan di dunia, akan tetapi yang terpenting adalah untuk mencapai kebahagiaan di akhirat.
2)      Isi Pendidikan atau Kurikulum
Kurikulum didalamnya harus mencakup agama.
3)      Metode-Metode Pendidikan
Metode-metodenya meliputi:
a)    Metode dialektik
b)   Metode ceramah
c)    Metode debat, diskusi atau tanya jawab
4)      Peranan Peserta Didik dan Pendidik
Pada umumnya guru dalam filsafat pendidikan ini bersifat aktif dan murid bersifat pasif.
2.    Kritik dan Saran
Penulis menyadari akan banyaknya kekurangan dalam makalah ini, baik dari ejaan penulisan, tata kalimat, tata bahasa maupun yang lainnya. Tetapi setidaknya penulis telah berusaha menguraikan maksud dari Filsafat Pendidikan Scholastisme. Oleh karena banyaknya kekurangan dalam makalah ini, penulis mengharapkan adanya wujud apresiasi pembaca untuk memberikan koreksi dan masukkan agar penulis mampu memperbaikinya dan tidak melakukan kesalahan sama untuk yang kedua kalinya. Terima kasih.
  
DAFTAR PUSTAKA
Education, Civic. 2011. Pemikiran-Pemikiran Peter Abelard. Diunduh melalui civiceducation.blogspot.com, tanggal 9 maret 2013, pkl. 17.00 WIB.
Jalaluddin dan Abdullah. 2002. Filsafat Pendidikan (Manusia, Filsafat dan Pendidikan). Jakarta: Gaya Media Pratama.
Mudyahardjo, Redja. 2008. Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sunarya, Yaya. 2012. Filsafat Pendidikan. Bandung: CV Arfino Raya.
Syadali, Ahmad dan Mudzakir. 2004. Filsafat Umum. Bandung: CV Pustaka Setia.




Sebuah Surat Untuk Sahabatku

Teruntuk Sahabatku…

Penulis: Rudini Adz-Dzikri Harun Ar-Rasyid Arya Mujahid

Assalaamu`alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Wahai sahabatku, pernahkah dalam hatimu ingin mencintai Allah dan Rasulnya ?
Wahai sahabatku, lalu bagaimanakah kamu mewujudkannya ?
Wahai sahabatku, pernahkah kamu bertanya kenapa dakwah Islam begitu sempit ( Penyampaian materi dan hasilnya ) ?
Itu semua, karena kita tidak bisa mengenal syahadat yang diajarkan Rasul yang mampu membawa Islam hingga dikenal seluruh dunia.
Dalam SYAHADAT  bukan hanya keyakinan yang diucapkan lewat SYAHADAT AIN melalui lisan, akan tetapi disitu tersedia jalan untuk kita berjuang dengan harta dan jiwa demi tegaknya kalimat Tauhid yang maha tinggi.
Salam kenal nih kontak saya : 08983582519, hubungin ya….
 
            Wahai sahabatku bagaimanakah kabarmu hari ini? Apakah engkau sudah mempersaksikan di hadapan seluruh makhluk dan malaikat yang menjunjung ‘Arsy yang agung dan malaikat seluruhnya bahwa engkau seorang muslim? Mempersaksikan bahwa Dia lah Robb yang agung, yang paling pedih azabnya sekaligus paling luas rahmatnya, sebagai Dzat yang satu-satunya berhak diberikan seluruh kecintaan, rasa takut dan harap dengan ketundukan dan penyerahan diri yang sempurna?
Sahabatku, sudahkah engkau bertekad hari ini untuk mengerjakan sunnah Rosululloh dengan benar dan ikhlas di atas syariat yang haq, yang tidak dinodai kebatilan syahwat dan syubhat yakni dengan cara mengikuti metode pemahaman dan pengamalan islam yang dilakukan oleh sahabat yang mustaqiim?
Sahabatmu menulis risalah ini saat hatinya sedang terbang melihat sahabatnya yang mencintai agama Allah… menginginkan kebaikan pada dirinya dan orang-orang yang disayanginya…
Sahabatmu menulis risalah ini mengharapkan agar sekiranya risalah ini menjadi batu perbaikan untuk meraih metode pemahaman dan pengamalan islam yang lurus dan meraih jalan kebaikan…
Sahabatmu menulis risalah ini dengan niat -yang semoga Alloh meluruskannya- yang menginginkan kebaikan bagi engkau wahai sahabatku…
Sahabatmu menulis risalah ini dengan harapan semoga melapangkan dada, menjernihkan akal dan bisa diterima oleh hati…
Sahabatmu menulis risalah ini agar ilmu menjadi bersinar dan tersebar… dan menjadi pembuka menuju jalan ke jannah-Nya…
Sahabatmu menulis risalah ini dan sangat mengharapkan persatuan kata dalam satu shaf yang sama, bersama-sama menapaki atsar Rosullulloh dan sahabatnya dan meraih beribu-ribu keindahan iman yang dicapai tholabul ‘ilmi…
Sahabatmu menulis risalah ini dan dia yakin dengan pasti dan tanpa ragu didalamnya ada kesalahan dan kekurangan… karenanya dia memohon ampun kepada Alloh dan memohon maaf kepadamu sahabatku…

Tausiyah Untukku dan Untukmu

Sahabatku, bacalah apa yang Allah firmankan padamu…
“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9)
“Allah meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadillah: 11)
“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28)
Sahabatku, ingatlah pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadamu…
“Barangsiapa yang Allah menghendaki suatu kebaikan pada dirinya maka Dia memberinya pemahaman dalam masalah dien.” (HR. Bukhori Muslim).
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi termasuk pula semut di dalam liangnya, termasuk pula ikan paus, benar-benar bersholawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia.” (HR. Tirmidzi)
“Kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah ialah seperti kelebihan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang gemintang. Sesungguhnya orang-orang yang berilmu itu adalah para pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu itu, berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
“Sesungguhnya para malaikat benar-benar mengepakkan sayap-sayapnya pada orang-orang yang mencari ilmu, karena ridho terhadap apa yang dicarinya.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)
“Barang siapa meniti suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalan baginya ke surga.” (HR. Muslim)
“Barangsiapa yang didatangi kematian pada saat dia sedang mencari ilmu, yang dengan ilmu itu dia hendak menghidupkan islam, maka antara dirinya dan para nabi hanya ada satu derajat di surga.” (HR. Ath-Thabrani)
Ketahuilah sahabatku… hukum mencari ilmu dien adalah wajib. Rosululloh bersabda, “Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Ketahuilah sahabatku… diantara semua ilmu ada ilmu yang terpuji dan ada ilmu yang tercela. Dan di antara ilmu yang terpuji ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah. Ilmu yang hukumnya fardhu ‘ain adalah ilmu yang dengannya engkau dapat mengenal Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dalam setiap gerak-gerikmu, ucapanmu, perbuatanmu yang kau tampakkan maupun yang ada di dalam hatimu. Sedangkan ilmu yang termasuk fardhu kifayah adalah setiap ilmu yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup di dunia seperti ilmu kedokteran dan farmasi.
Maka ilmu yang fardhu ‘ain wajib untuk dicari oleh setiap muslim sedangkan ilmu yang fardhu kifayah adalah wajib untuk dicari oleh seorang muslim, namun apabila sudah dikerjakan oleh sebagian muslim maka gugur kewajiban yang lain.
Ketahuilah sahabatku… jadilah salah seorang diantara dua jenis manusia. Pertama jadilah orang yang sibuk dengan dirimu sendiri dengan hal yang fardhu ‘ain. Kedua setelah selesai dengan kesibukan diri sendiri berilah manfaat pada orang lain dengan hal yang fardhu kifayah. Jangan menjadi orang yang hanya sibuk memperbaiki orang lain sebelum memperbaiki diri sendiri. Perhatikanlah hati dan amalanmu. Jika engkau belum bisa menata diri sendiri dan hatimu, maka janganlah engkau menyibukkan diri dengan yang fardhu kifayah sebab orang lain telah banyak yang mengamalkan ilmu ini. Orang yang hendak mencelakakan dirinya sendiri dengan memperbaiki keadaan orang lain adalah orang yang bodoh. Perumpamaan dirinya seperti orang yang di dalam pakaiannya tersusupi kalajengking, lalu dia mengendap-endap untuk menghalau seekor lalat agar tidak hinggap di tubuh orang lain di sampingnya.
Jika engkau sudah bisa menata diri sendiri, engkau boleh menyibukkan diri dengan ilmu yang fardhu kifayah. Mulailah mencari ilmu dari Kitabullah dan Sunnah baru engkau mendalami ilmu yang lain. Janganlah engkau menghabiskan umurmu dalam satu jenis ilmu karena ingin mendapatkan predikat spesialisasi. Sesungguhnya ilmu itu sangat banyak sementara umur manusia sangat terbatas. Maka pilihlah ilmu yang paling bermanfaat bagimu yang dengannya engkau bisa meraih ridho Allah.
Sahabatmu ini pernah mendapatkan nasihat, “Sempatkan waktumu menemui majelis-majelis ta’lim yang lurus aqidah, akhlaq dan manhajnya sekalipun harus menempuh jalan yang jauh dan sulit. Sempatkan hatimu untuk menerima belaian dan makanan berupa ilmu. Ingat dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ilmu bagi hati bagaikan air bagi ikan. Apa jadinya ikan tanpa air? Lalu apa jadinya hati tanpa ilmu?”
Namun sahabatmu ini sibuk sekali dengan urusan dunia dan prestasi, menganggap bahwa dunia sudah cukup untuk menepis musibah dan meraih kebahagiaan. Kebahagiaan datang lalu pergi dan hatinya terasa begitu kering. Musibah datang silih berganti dan membuat hatinya semakin kering hingga sahabatmu ini mendapat nasehat lagi…
Zuunuun rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai saudaraku berdirilah di hadapan tuhanmu seperti anak kecil di hadapan ibunya. Setiap kali ia dipukul oleh ibunya, ia malah bergerak ke arahnya dan setiap kali ia diusir ia malah mendekatinya. Keadaannya tetap seperti itu sampai sang ibu mendekapnya.”
Sabarlah jika engkau sedang ditimpa musibah, berdoalah kepada Allah agar semua itu bisa mengurangi dan menghapus dosa-dosamu. Kembalilah pada Allah dan carilah solusi dari Rosulullah. Sesungguhnya dalam Islam terdapat solusi bagi seluruh permasalahan. Dan cukupkan dirimu dengan solusi yang Allah dan Rosul-Nya berikan. Karena Allah lah yang Maha Bijaksana, menentukan yang terbaik bagi hambaNya. Dan memang, solusi terbaik atas seluruh urusan adalah islam, agama yang sempurna dan indah dari segala segi. Kebahagiaan hakiki ada pada Islam.
Sahabatku… bersabarlah untuk terus melangkah menggapai manisnya iman. Kita tidak akan pernah tahu, kapan umur kita pupus. Maka manfaatkanlah waktu untuk bersegera merajut manfaat dalam ridho Allah. Perjalanan sungguh amat jauh dan berat karenanya perlu bekal yang banyak agar kita tidak merugi. Dan kumpulkan bekal itu sekarang karena kita tidak tahu sampai kapan kita hidup. Bahkan sampai besok pagi pun kita tidak tahu apakah kita masih hidup.
Kelak di akherat, Robb kita tidak akan menanyakan: Bagaimana duniamu? Apakah orang tuamu kau bahagiakan dengan duniamu?
Tidak, sama sekali tidak…
Justru Robb kita akan bertanya: Untuk apa masa mudamu kau gunakan? Dan semoga saat itu walidain kita akan bangga dengan kesholehan anaknya, bukan dengan hal-hal yang dibanggakan di dunia tapi hakikatnya menjadi tamparan yang amat menyakitkan bagi mereka di akherat. Manakah yang engkau ridho atasnya sahabatku?
Jangan tertipu oleh alasan-alasan maya yang dibisikkan syaithon untuk membenarkan yang salah, menghalalkan yang haram dan menyamarkan hal-hal yang jelas.
Sahabatku… tentulah kita semua tahu bahwa terbukanya pintu taubat adalah hingga ditariknya nyawa sampai tenggorokan. Setelah itu tertutuplah pintu taubat untuk selamanya dan tak berguna lagi penyesalan sesudah itu. Tapi sahabatku, tak seorang pun tahu kapan kematian menjemput, kapan pintu taubat ditutup, apakah tahun depan, bulan depan, malam ini atau setelah beranjak dari tempat ini?? Tak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya hingga begitu banyak manusia meremehkan bersegera dalam bertaubat dan dalam keadaan merasa aman dengan ilmu, amal, dan agama yang ia miliki sekarang. Padahal barangsiapa yang merasa aman dengan agamanya maka Allah mencabut agamanya pada saat itu juga.
Sahabatmu ini hanya bisa berdoa semoga dalam kesendirian kita masing-masing kita tetap bersemangat berpegang teguh terhadap al-haq, tetap istiqomah, menjunjung nilai-nilai sunnah dalam setiap tingkah, langkah, menit dan detik kita. Kita berlindung kepada Allah dari fitnahnya dunia dan segala perhiasannya. Semoga kita diselamatkan dari tipu daya dan bisikan syaithon yang melalaikan kita dari mengingat agungnya akherat.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kita sudah mengetahui maknanya. Lalu kapankah kita mengamalkan?
Risalah ini hanya sekadar mengingatkanmu sahabatku, sesungguhnya ilmu yang kita pelajari di kampus bermanfaat. Tidak ada yang melarang kita untuk mempelajarinya, bahkan sangat dianjurkan demi kemaslahatan umat Islam. Apalagi jika kita belajar untuk birul waliddain, tentu pahalanya akan lebih berlipat lagi. Tapi sekali lagi sahabatku, tentu engkau sudah mampu mempertimbangkan manakah yang seharusnya lebih didahulukan, bahwa ilmu yang kita pelajari hukumnya fardhu kifayah dan butuh ilmu yang fardhu ‘ain sebagai landasannya. Sahabatku, engkau sudah dewasa dan engkaulah yang berhak menentukan jalan yang akan engkau tempuh. Sahabatmu ini sekedar menyampaikan ilmu yang sudah sampai padanya. Karena sahabatmu ini sangat menyayangimu karena Allah dan berharap kelak bertemu denganmu di surgaNya dan masih bersamamu ketika menuai ridho-Nya dan memandang wajah-Nya. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Dari sahabatmu…

Rudini Adz-Dzikri Harun Ar-Rasyid Arya Mujahid

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. R U D I N I - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger